EkonomiSosial

Tingkatkan Ketersediaan Pangan Warga, Pemdes Jatiroke Gelar Diskusi dengan Fapet Unpad

QILATZ.COM, JATINANGOR – Guna mengatasi ketersediaan bahan pangan di tingkat lokal desa paska pandemi Covid-19, Pemerintah Desa Jatiroke, berkerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menggelar diskusi dan pelatihan peningkatan kapasitas ketahanan pangan melalui diseminasi teknologi hidroponik bertempat di Aula Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor.

Kepala Desa Jatiroke, Ulan Ruslan mengatakan, diakusi tersebut sangat diharapkan warga untuk meningkatkan pengetahuan teknologi hidroponik.

“Kami merasa senang dan antusias untuk bertani secara hidroponik. Kami berharap dari pelatihan ini dapat meningkatkan wawasan masyarakat terkait dengan teknologi hidroponik guna peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas hasil panen,” ujarnya. Kamis (29/12).

Staf dosen Faperta Unpad yang juga narasumber Dr. Rahmat Budiarto, SP., M.Si. mengatakan, teknologi hidroponik dikenalkan sebagai solusi budidaya tanaman yang kini tengah digrandungi petani milenial, memiliki citra yang baik karena identik dengan gaya hidup modern dan dapat diterapkan di lahan terbatas, dengan menggunakan media tumbuh air maupun media non tanah, seperti arang sekam dan cocopeat.

“Hidroponik umumnya digunakan untuk tanaman sayuran daun, seperti selada, seledri, dan bayam. Namun dapat pula dikembangkan untuk tanaman buah dan sayuran buah, seperti melon, tomat dan mentimun. Sama seperti budidaya tanaman pada umumnya, budidaya secara hidroponik tetap mengacu pada 5 aspek sebagai kebutuhan utama tanaman yakni cahaya, oksigen, air, nutrisi, dan penyangga (buffer),” ujarnya.

Ia menambahkann, dalam sistem hidroponik cahaya dan oksigen didapatkan dari lingkungan tumbuh sekitar, sedangkan air, nutrisi dan penyangga perlu disediakan oleh petani. Air dan nutrisi umumnya disediakan dengan teknik fertigasi, menggunakan larutan AB-mix ke dalam wadah tumbuh tanaman. Penyangga disediakan dalam bentuk net pot dan pipa untuk kasus budidaya sayuran, sedangkan kasus budidaya buah memerlukan penyangga dalam bentuk media non tanah dan ajir. ****

Tingkatkan Ketersediaan Pangan Warga, Pemdes Jatiroke Gelar Diskusi dengan Fapet Unpad

QILATZ.COM, JATINANGOR – Guna mengatasi ketersediaan bahan pangan di tingkat lokal desa paska pandemi Covid-19,
Pemerintah Desa Jatiroke, berkerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menyelenggarakan diskusi dan pelatihan peningkatan kapasitas ketahanan pangan melalui diseminasi teknologi hidroponik bertempat di Aula Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor.

Kepala Desa Jatiroke, Ulan Ruslan mengatakan, diakusi tersebut sangat diharapkan warga untuk meningkatkan pengetahuan teknologi hidroponik.

“Kami merasa senang dan antusias untuk bertani secara hidroponik. Kami berharap dari pelatihan ini dapat meningkatkan wawasan masyarakat terkait dengan teknologi hidroponik guna peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas hasil panen,” ujarnya. Kamis (29/12).

Staf dosen Faperta Unpad yang juga narasumber Dr. Rahmat Budiarto, SP., M.Si. mengatakan, teknologi hidroponik dikenalkan sebagai solusi budidaya tanaman yang kini tengah digrandungi petani milenial, memiliki citra yang baik karena identik dengan gaya hidup modern dan dapat diterapkan di lahan terbatas, dengan menggunakan media tumbuh air maupun media non tanah, seperti arang sekam dan cocopeat.

“Hidroponik umumnya digunakan untuk tanaman sayuran daun, seperti selada, seledri, dan bayam. Namun dapat pula dikembangkan untuk tanaman buah dan sayuran buah, seperti melon, tomat dan mentimun. Sama seperti budidaya tanaman pada umumnya, budidaya secara hidroponik tetap mengacu pada 5 aspek sebagai kebutuhan utama tanaman yakni cahaya, oksigen, air, nutrisi, dan penyangga (buffer),” ujarnya.

Ia menambahkann, dalam sistem hidroponik cahaya dan oksigen didapatkan dari lingkungan tumbuh sekitar, sedangkan air, nutrisi dan penyangga perlu disediakan oleh petani. Air dan nutrisi umumnya disediakan dengan teknik fertigasi, menggunakan larutan AB-mix ke dalam wadah tumbuh tanaman. Penyangga disediakan dalam bentuk net pot dan pipa untuk kasus budidaya sayuran, sedangkan kasus budidaya buah memerlukan penyangga dalam bentuk media non tanah dan ajir. ****

Back to top button